This blog is no longer updated pls post comment to http://yorissebastian.com

Thinking Out of the Box – Execute Inside the Box

Trans 7uara – Juara di hati pemirsa December 22, 2008

Filed under: creative,event,indonesia — yoris72sebastian @ 12:54 am
Tags: , , , , , ,

Beberapa hari yang lalu saat saya sedang merapikan materi workshop buat Management Trainee Ancol, secara tidak sengaja saya nonton program ulang tahun Trans Corp. bertajuk Trans 7uara.

logo_trans7uara

Judul yang menarik, karena setelah saya lihat ternyata memang banyak program-program Trans TV dan Trans 7 yang menjadi juara di hati pemirsa alias juara di rating 😉

Trans Corp memang cukup terkenal dengan berbagai program acara yang unik dan innovative.  Sebut saja mulai dari Termehek-mehek, Me vs My Mom, Empat Mata, Suami-suami takut istri, John Pantau dan masih banyak lagi.

Malah kalau kita ingat sebenarnya konsep AFI dan Idol lebih dahulu dilaunch oleh Trans TV namun waktu itu belum sekuat sekarang.

Intinya, Trans corp. terus ber-inovasi.  Kalau dulu mereka claim sebagai televisi yang segmented dan kuat dengan built in sponsor, kini tampaknya sudah saatnya mereka juga claim rating.

Kesuksesan Trans Corp juga tidak lepas dari kolaborasi tua-muda.  Pak Ishadi dengan segala pengalamannya, memberi kesempatan yang luas bagi para ‘anak muda’ berpotensi seperti Wisnutama (yang kini menjadi Dirut Trans TV) dan Atiek Nur Wahyuni (kini Dirut Trans 7) seperti yang ditampilkan dalam penghujung program ulang tahun bertajuk Trans 7uara.

Program ulang tahun yang dilaksanakan di JCC selama dua jam ini, menurut saya pas dalam menggabungkan teknologi yang ada (walau ter-inspirasi oleh panggung Celine Dion) namun at least mampu memperlihatkan semua hal yang ‘Juara’ dari Trans Corp.  termasuk rating2 yang berjalan di sebelah kanan televisi.  Multi media juga dipergunakan secara maksimal dan berkonsep (berapa hari ya multimedia dikerjakan 😉

Jadi bukan saja artis-artis besar yang ditampilkan, bukan saja teknologi yang ditampilkan, bukan saja hadiah-hadiah yang diundi, namun apakah program tersebut sesuai dengan message yang akan disampaikan…

Once again, salute for Trans Corp. and keep up innovating guys…!!!

Advertisements
 

Perlu dukungan serius August 16, 2008

Yup, begitulah artikel kompas hari ini soal olahraga Angkat Besi yang sudah tiga olimpiade berturut-turut meraih medali untuk Indonesia. Tahun ini Angkat Besi kembali membuat bendera Merah Putih berkibar di pentas olahraga tingkat dunia, lewat 2 lifter nasional Triyatno dan Eko Yuli Irawan.

Lagi-lagi, sebuah hasil maksimal dari sebuah persiapan yang tidak maksimal. Mengutip artikel di kompas, disebutkan persiapan tim Angkat Besi baru 1-2 tahun menjelang olimpiade digelar. Wah bagaimana ya kalau persiapannya lebih serius dan lebih panjang lagi.

Belum lagi di salah satu tv nasional, dipertontonkan bahwa Triyatno dulu awalnya latihan angkat besi lantaran diberi uang, bukan karena dia suka dan merasa punya ‘passion’ di olahraga ini.

Memang agak sulit untuk membuat orang tertarik dengan olahraga yang kurang populer namun berprestasi international. Saya dan mungkin sebagian besar orang di indonesia malah tidak ingat dengan nama para pahlawan olahraga yang meraih medali dari angkat besi di olimpiade Sydney 2000 dan Athena 2004.

Yang saya ingat adalah peraih medali emas olimpiade dari cabang bulutangkis. Bulutangkis, seperti cabang Angkat Besi selalu menyumbang medali (tradisi emas, bahkan) untuk Indonesia sejak cabang ini dipertandingkan di olimpiade.

"Awas angin ac..."

Walau lebih populer dibanding angkat besi, Bulutangkis pun mulai merosot popularitas dan prestasinya. Masih beruntung kita ada Trans TV yang pada Piala Thomas-Uber lalu cukup ‘kencang’ mengangkat kebanggaan akan olahraga yang dulunya sempat sangat kuat popularitas dan prestasinya ini. (Saya malah waktu kecil ikut antri untuk foto bareng dengan Piala Thomas)

Namun popularitas olahraga kebanggaan kita ini pun mulai surut seiring dengan merosotnya prestasi para atlit bulutangkis. Yang saya takutkan dengan makin banyaknya pemain Indonesia ‘dibajak’ ke luar negri sebagai pemain import disana dengan segala fasilitas yang memadai, maka prestasi bulutangkis kita pun makin menurun. Bahkan ada yang sampai pindah warga negara… wah wah wah… sayang sekali ya… sementara negara lain makin maju prestasinya, kita kok malah merosot.

Sadarkah kita bahwa Jakarta tidak memiliki stadium yang standar international untuk menggelar pertandingan bulutangkis? Istora tidak dirancang untuk memiliki AC sehingga pada saat pertandingan, semburan AC mengganggu arah dan laju shuttle cock.

Padahal animo masyarakat masih cukup kuat, saya saja tidak kebagian tiket semifinal Thomas dan Final Uber Cup lalu. Antrian panjang penonton bulutangkis juga terlihat di depan Istora. Kalau mau beneran belajar dari beberapa negara luar (studi banding beneran), indoor stadium bisa dirancang untuk beberapa fungsi, seperti olahraga, musik, exhibition dan banyak hal lain yang profitable.

Bayangkan bila gedung tersebut juga memampang semua prestasi olahraga bulutangkis kita layaknya sebuah musium modern yang nyaman didatangi… Cross our finger… we will have it in the future.

Every business is a creative business… including sport business 😉

 

MURI (Musium Rekor Indonesia) December 27, 2007

Filed under: creative — yoris72sebastian @ 6:28 pm
Tags: , , , , ,

Siapa bilang kreatifitas hanya milik orang marketing. Pada dasarnya semua pekerjaan memerlukan kreatifitas untuk bisa sukses. Tapi banyak teman saya yang lantas bilang “loe sih enak, emang dasarnya kreatif, nah gue kan gak kreatif ris” sebenarnya mereka nggak tau kalau saya sendiri juga dulunya tidak kreatif. Itu wajar, menurut saya kreatifitas bukanlah semata faktor keturunan tapi juga faktor kebiasaan.

Apakah kita mau membuat creative thinking menjadi habit? Karena berpikir kreatif itu bisa dipelajari, dijalankan dan semakin sering tentunya semakin gampang karena sudah terbiasa. Jadi semuanya kembali pada kita sendiri.

Saya mencoba untuk mempunyai kebiasaan kreatif di segala hal. Mulai dari nomer telpon, pake jam tangan kadang di kiri dan kadang di kanan, sampai yang paling gampang memilih jalan untuk pergi ke kantor. Kita seringkali terjebak dengan kebiasaan dan rutinitas.

Ya, supaya kreatif cobalah dengan merubah sesuatu yang rutin. Misalnya jalan ke kantor tadi. Walau yang sekarang sudah yang terdekat dan tercepat tapi bila kita memulai dengan lewat jalan yang baru, it’s a start. Bayangkan dengan jalan yang baru tersebut anda bisa melihat banyak hal yang baru yang mungkin memberi inspirasi yang berbeda.

Apalagi kalau kita masih muda, apalagi yang bisa kita tawarkan kalau bukan kreatifitas. Saya bisa menjadi General Manager Hard Rock Café Jakarta di usia 26 (GM termuda kedua di HRC seluruh dunia) terutama karena saya kreatif.

Banyak hal baru yang saya tawarkan selama saya menjadi middle manager di Hard Rock Café, salah satunya program musik mingguan I Don’t Like Monday. Sebenarnya simple membuat konser untuk artis Indonesia yang sudah punya banyak album hanya saya lakukan setiap hari Senin. Kenapa senin? Karena senin waktu itu hari yang paling sepi di HRC maupun dimana-mana. Artis-artis juga banyak yang nganggur. Peralatan sound system juga banyak nganggur. Jadi biaya produksi bisa lebih murah. Dan yang paling penting, belum ada yang bikin event senin, jadi saya tidak punya saingan.

Ada yang bilang kreatif itu adalah melihat sesuatu yang sebenarnya simple tapi tidak kepikiran oleh orang lain. Jadi tidak susah banget kok. Coba deh lebih peka dengan keadaan sekeliling anda. Amati secara seksama, banyak inspirasi yang bisa diambil.

Bicara soal muda, baru-baru ini juga ada contoh yang bagus dari stasiun tv yang terbilang berusia cukup muda, Trans TV. Mereka sadar dengan usia muda mereka, mereka selalu hadir dengan program-program kreatif yang berbeda dari stasiun tv lainnya. Dari situ – saya baca di salah satu iklan – mereka sudah bisa klaim bahwa akhirnya mereka berhasil menjadi televisi dengan rating tertinggi di kelas AB. Dan saya saya sangat kagum, baru-baru ini mereka menjadi headline di harian kompas lantaran mendapat MURI untuk rekor pendaftaran karyawan baru terbesar yang pernah ada di Indonesia.

trans-tv-muri-kompas.jpg

Buat saya, ini merupakan contoh bagaimana mendapatkan MURI yang tepat dan relevan. Banyak perusahaan yang akhir-akhir ini saya lihat mendapatkan MURI hanya untuk sensational. Ini boleh-boleh saja kalau perusahaan tersebut baru sehingga perlu sensasi agar orang jadi kenal namun akan lebih baik kalau MURI award yang mereka dapat juga relevan.

Seperti Trans TV, MURI yang mereka dapat dari segi human resources selain sensasional juga relevan karena menunjukkan bahwa saat ini animo orang untuk masuk perusahaan tersebut sangat besar. As we all know that good company attract a lot of good people.

Diambil dari majalah Clear – kolom YORISSAYS every person is a creative person