This blog is no longer updated pls post comment to http://yorissebastian.com

Thinking Out of the Box – Execute Inside the Box

Perlu dukungan serius August 16, 2008

Yup, begitulah artikel kompas hari ini soal olahraga Angkat Besi yang sudah tiga olimpiade berturut-turut meraih medali untuk Indonesia. Tahun ini Angkat Besi kembali membuat bendera Merah Putih berkibar di pentas olahraga tingkat dunia, lewat 2 lifter nasional Triyatno dan Eko Yuli Irawan.

Lagi-lagi, sebuah hasil maksimal dari sebuah persiapan yang tidak maksimal. Mengutip artikel di kompas, disebutkan persiapan tim Angkat Besi baru 1-2 tahun menjelang olimpiade digelar. Wah bagaimana ya kalau persiapannya lebih serius dan lebih panjang lagi.

Belum lagi di salah satu tv nasional, dipertontonkan bahwa Triyatno dulu awalnya latihan angkat besi lantaran diberi uang, bukan karena dia suka dan merasa punya ‘passion’ di olahraga ini.

Memang agak sulit untuk membuat orang tertarik dengan olahraga yang kurang populer namun berprestasi international. Saya dan mungkin sebagian besar orang di indonesia malah tidak ingat dengan nama para pahlawan olahraga yang meraih medali dari angkat besi di olimpiade Sydney 2000 dan Athena 2004.

Yang saya ingat adalah peraih medali emas olimpiade dari cabang bulutangkis. Bulutangkis, seperti cabang Angkat Besi selalu menyumbang medali (tradisi emas, bahkan) untuk Indonesia sejak cabang ini dipertandingkan di olimpiade.

"Awas angin ac..."

Walau lebih populer dibanding angkat besi, Bulutangkis pun mulai merosot popularitas dan prestasinya. Masih beruntung kita ada Trans TV yang pada Piala Thomas-Uber lalu cukup ‘kencang’ mengangkat kebanggaan akan olahraga yang dulunya sempat sangat kuat popularitas dan prestasinya ini. (Saya malah waktu kecil ikut antri untuk foto bareng dengan Piala Thomas)

Namun popularitas olahraga kebanggaan kita ini pun mulai surut seiring dengan merosotnya prestasi para atlit bulutangkis. Yang saya takutkan dengan makin banyaknya pemain Indonesia ‘dibajak’ ke luar negri sebagai pemain import disana dengan segala fasilitas yang memadai, maka prestasi bulutangkis kita pun makin menurun. Bahkan ada yang sampai pindah warga negara… wah wah wah… sayang sekali ya… sementara negara lain makin maju prestasinya, kita kok malah merosot.

Sadarkah kita bahwa Jakarta tidak memiliki stadium yang standar international untuk menggelar pertandingan bulutangkis? Istora tidak dirancang untuk memiliki AC sehingga pada saat pertandingan, semburan AC mengganggu arah dan laju shuttle cock.

Padahal animo masyarakat masih cukup kuat, saya saja tidak kebagian tiket semifinal Thomas dan Final Uber Cup lalu. Antrian panjang penonton bulutangkis juga terlihat di depan Istora. Kalau mau beneran belajar dari beberapa negara luar (studi banding beneran), indoor stadium bisa dirancang untuk beberapa fungsi, seperti olahraga, musik, exhibition dan banyak hal lain yang profitable.

Bayangkan bila gedung tersebut juga memampang semua prestasi olahraga bulutangkis kita layaknya sebuah musium modern yang nyaman didatangi… Cross our finger… we will have it in the future.

Every business is a creative business… including sport business 😉

Advertisements
 

The Spectacular Opening of Olympic Beijing 8.8.8 August 10, 2008

Filed under: creative,inspiration — yoris72sebastian @ 12:10 pm
Tags: , , , , , , , , ,

Bukan saja tanggalnya yang cantik, pembukaan olimpiade beijing beberapa hari lalu juga sungguh cantik 🙂 Walau masih jauh untuk Indonesia, namun bangga juga bahwa negara Asia sudah bisa mempersembahkan pembukaan olimpiade yang mengundang decak kagum seluruh dunia.

Seorang anak kecil saja, yang biasanya sibuk main nintendo DS (lantaran hanya boleh main selama weekend) dan selalu cuek kalau ibu dan bapaknya mengajak bicara saat ia asik main… hari itu meninggalkan sebentar Mario Bros-nya, karena tertarik melihat kedahsyatan pembukaan yang konon menelan biaya sebesar 90 Juta US Dollar (Total 180 Juta US Dollar untuk opening dan closing ceremony)

Yup, pasti banyak yang bilang terang saja kalau biaya segitu saya juga bisa… namun menurut saya tidak segampang itu. Semuanya melalui proses, China terlebih dulu sukses menggelar Asian Games di tahun 1990 (Info saja, Indonesia terakhir menjadi host Asian Games di tahun 1962). Sementara untuk Asian Games terakhir tahun 2006 lalu di Doha (Qatar) konon biaya opening dan closing ceremony-nya serupa dengan biaya yang ditetapkan oleh Organizing Committee Olympic Beijing. Hasilnya? Semakin spektakuler. Jadi hasil spektakuler tidak melulu harus dengan biaya ‘double’ atau biaya lebih tinggi. Belajarlah dari opening ceremony Beijing 8.8.8

Persiapan yang panjang (tanpa mental ‘nanti-nanti aja toh masih lama’) membuat panitia Olimpiade 2012 London harus berpikir keras mempersiapkan opening ceremony yang tak kalah spektakulernya. Dari berbagai sumber yang saya baca, penggunaan multi media agak sulit untuk ditandingi karena waktu yang tersisa. Namun saya percaya, selama kita kreatif opening ceremony London 2012 tidak melulu harus prioritas ke multimedia.

Di luar kemegahan pesta olahraga yang menghabiskan dana yang besar, sebenarnya bila dikelola dengan benar. Pesta Olahraga adalah investasi sebuah negara. Semua biaya yang keluar dimuka adalah investasi yang akan menjadi keuntungan dengan suksesnya penyelenggaraan pesta olahraga tersebut. Selain langsung balik modal dari penerimaan pajak hotel, restaurant, souvenir, public transportation, tempat wisata, tiket masuk olimpiade, pendapatan para pekerja freelance dan lain sebagainya – di kemudian hari Beijing khususnya dan China secara umum akan semakin menarik orang dari seluruh penjuru dunia untuk dikunjungi.

Saya yang kebetulan ke Beijing dan Shanghai 3 tahun lalu, sudah merasakan bagaimana siapnya Beijing menyongsong acara yang masih 3 tahun lagi. Mereka mempersiapkan olimpiade ini dari jauh-jauh hari (sejak sekitar tahun 2000an kalau tidak salah). Semua sektor mereka perbaiki termasuk persiapan bahasa. Dibanding beberapa tahun sebelumnya, penggunaan bahasa Inggris para penduduk yang terkait dengan wisatawan meningkat pesat. Pemerintah memberikan kursus Inggris gratis bagi mereka yang memerlukan.

Untuk Indonesia, pesta olahraga sudah selayaknya dipersiapkan lebih matang sehingga semua pihak untung. Mulai dari kota yang menjadi host hingga pemerintah pusat melalui pencapaian pajaknya. PON Palembang sebenarnya sudah mulai membuahkan hasil, like it or not Palembang dengan ikon Jembatan Ampera yang membelah sungai Musi – kini menjadi ikon pulau Sumatera (ingat iklan indomie terbaru ;-)) Apalagi setelah PON 2004, kota Palembang menjadi bagus, menang Adipura 2 tahun berturut-turut [2007-2008] dan ikut mendampingi kota Jakarta untuk bertanding di lomba Adipura Asean.

Pesta olahraga adalah investasi ekonomi yang menguntungkan. Domino effectnya juga long term. Tebak dimana Asian Games tahun 2010? Beijing 😉 Toh mereka sudah siap dengan segala fasilitas olahraga dan wisata.

Kembali ke Indonesia, di depan mata adalah SEA Games 2011 dimana Jakarta akan menjadi tuan rumah. Persiapannya sudah sampai mana ya? sekitar 3 tahun lagi nih 😉