This blog is no longer updated pls post comment to http://yorissebastian.com

Thinking Out of the Box – Execute Inside the Box

Laskar Pelangi – Film bagus dan larisss October 11, 2008

“Laskar Pelangi top abissss” demikian pesan dari Yan (one of my partner at the office) tertulis di XL blackberry messenger saya. “Kekuatan cerita atau kekuatan nama Laskar Pelangi yang membuat sukses?” lanjutnya bertanya.

Sebelum saya jelaskan jawaban saya di blog ini. Sebenarnya saya jadi tergelitik soal kekuatan cerita, karena plot cerita Laskar Pelangi sebenarnya mirip dengan plot cerita film Denias di 2006 yang mengantar film ini masuk nominasi kategori film asing untuk Oscar.

Denias juga bercerita mengenai area kaya hasil alam namun tidak berimbas pada penduduknya. Denias juga bercerita mengenai susahnya anak Indonesia di Papua mendapatkan pendidikan yang layak karena kebanyakan orang tua lebih prefer anaknya bekerja. Denias juga diangkat dari kisah nyata.

Denias berhasil menjadi film bagus namun sayang sekali kurang berhasil secara komersil.

Nah, kenapa Laskar Pelangi yang mendulang sukses komersial? (dan saya pribadi berharap Laskar Pelangi akan mendapatkan banyak award juga tentunya… Oscar ;)) Di opening weekend saja LP sudah berhasil menjual sebanyak 470.000 tiket dan tampaknya akan terus bertambah dan (mudah-mudahan) memecahkan rekor Ayat-Ayat Cinta.

Credibility. Faktor pertama yang membuat Mira Lesmana dan Riri Riza berhasil mendapatkan hak film untuk novel laris karya Andrea Hirata. Konon banyak produser dan sutradara yang meminta namun Andrea ‘memilih’ Mira dan Riri.

Best Seller Novel. Faktor ini plus credibility diatas yang membuat investor ‘percaya’ memberikan budget sedemikian besarnya (numbers pls google first) untuk memproduksi film lokal. Saya (melalui Blockbuzzter, selaku salah satu sponsorship consultant untuk film ini) sempat bertanya dengan sang investor, kalau rugi gimana pak? biaya pembuatan film ini tergolong besar untuk film yang produksinya di Indonesia… “Tidak apa-apa, menurut saya ceritanya bagus dan penting untuk ditonton orang banyak…”

Focus on each strength. Selain itu yang paling penting adalah semua pihak yang terlibat fokus pada kekuatan masing-masing. Saya cukup surprised dan senang saat nonton Premier LP di FX Platinum XXi, karena pada awal film tertulis Skenario oleh Salman Aristo (Aris adalah script writer Ayat Ayat Cinta) baru dibawahnya ditulis dibantu Mira Lesmana dan Riri Riza. Artinya Andrea Hirata selaku pengarang novel tidak ikut berkepentingan dalam script writing film ini. Walau tentunya kalau ditanya ke Aris tentunya Andrea Hirata adalah tokoh penting dalam proses penulisan script film ini, dari dialah Aris mendapatkan paling banyak input penting soal naskah film ini.

Jadi setiap orang fokus pada fungsi mereka masing-masing. Masih ingat film Gie (2005) yang menghabiskan 10 Milyar Rupiah. Riri Riza merangkap sebagai sutradara dan script writer.

Lesson learn here.  Use the best people and maximize their strength. Hasilnya menjadi lebih baik dan sangat pas. Aris sendiri sempat bertanya saat selesai premier, “Gimana mas?” jawab saya “Wah ris, pake nanya lagi…. top abisss!! congrats” jawab saya cepat.

Publicity. Tanpa mengembar gemborkan biaya produksi film yang terbilang kolosal. Laskar Pelangi melakukan publisitas yang pas, masuk ke Kick Andy (yang harus diakui juga menjadi faktor sukses novel Laskar Pelangi) untuk membahas film ini. Orang tentunya penasaran melihat akting para bocah asli Belitong, belum lagi tangis Cut Mini saat diwawancara Andy Noya dan tentunya saat Andrea Hirata bilang, “film ini lebih bagus daripada novelnya” makin penasaran-lah para pembaca novel tersebut dan tentunya pemirsa Kick Andy.

Soundtrack. Suka tidak suka soundtrack juga medium promosi yang sangat tepat. Saat tulisan ini saya buat lagu Laskar Pelangi dari Nidji sedang heavy rotation di radio-radio. Iklan RBT dengan cuplikan video clip Nidji 30 detik juga memancing penasaran orang yang belum menonton.

Jadi jawaban saya ke Yan adalah semua serba pas. Kekuatan cerita dan kekuatan nama Laskar Pelangi dimanfaatkan secara proporsional. Sebenarnya masih banyak lagi key success factor dari film Laskar Pelangi, but I save it for my next client… namanya juga consultant 😉

Advertisements
 

Another Superheroes… Please welcome… Hancock :) July 12, 2008

Filed under: marketing,movie — yoris72sebastian @ 6:00 pm
Tags: , , , ,

Kesuksesan Iron Man, Fantastic Four, Hell Boy, Hulk, Daredevil, Spiderman dan era baru film action based on comic ini tentunya diawali The Crow di tahun 1994 disusul Spawn tahun 1997.

Berdasarkan data wikipedia, Iron Man dengan budget 135 juta dollar saat ini mampu menghasilkan 876 juta dollar. Sementara Spiderman 3 dengan budget 258 juta dollar, menghasilkan 890 juta dollar. Film superheroes selain laris manis ditonton juga membuka peluang besar di merchandise deal, apalagi superheroes jaman sekarang makin nowadays seperti Superman dulu sehingga memudahkan product placement 😉

Sayang kita tidak bisa tahu berapa banyak penjualan di bioskop2 Indonesia seperti 21 dan Blitz. Tapi yang pasti kedua film diatas sangat sukses di theatre2 tanah air.

Deman superheroes juga menjalar ke tv series… inget dong serial tv ‘Heroes’

Hari ini saya menonton Hancock. Another superheroes… tapi saya senang karena angle yang berbeda… menunjukkan bahwa superheroes kalau tidak tidak peduli sekitarnya bukannya disukai tapi malah dibenci. Sama seperti dalam kehidupan sehari-hari bila ada rekan kerja yang ‘super’ namun tidak peduli dengan sekitarnya akan bernasib sama seperti Hancock di awal film. Saya selalu senang dengan film yang tidak mudah ditebak endingnya. Jadi saya biarkan saja.. tidak perlu membicarakan ending film ini.

Sebagai movie sponsorship consultant (lewat bendera Blockbuzzter), saya berharap bila nanti deman film superheroes masuk ke industri film nasional… kekuatan cerita dan kreativitas dalam memilih ‘superheroes’ harus cukup kuat sehingga mampu menutupi kekurangan teknis film superheroes nantinya. Saya yakin kalau ceritanya kuat, tanpa perlu terlalu banyak ‘action scene’ yang tentunya memakan biaya super besar.  Film bisa tetap menarik… seperti Hancock yang tidak terlalu banyak ‘matrix effect’ tapi sarat dengan product placement yang masuk secara soft.

Kecuali kalau nantinya ada yang bikin film animasi… disana lebih banyak area to play.

Seperti film Hancock ‘play’ with their poster… did you notice the poster? ;-p