This blog is no longer updated pls post comment to http://yorissebastian.com

Thinking Out of the Box – Execute Inside the Box

Apple Center Jakarta vs Apple Genius Bar November 1, 2008

More than 1 year using Macbook, I already become Apple fans and have influenced many people to use and fall in love to Apple products. Wondering why Apple Store never open in Jakarta, but it’s okay because we have many authorized reseller with good product display, good product knowledge and good service.

One thing that I think Apple really need to have is their GENIUS BAR in Jakarta. Why? Because their one and only Apple Center is not up to Apple standard, in my humble opinion as a new Apple fans. It’s not because their location is in Ratu Plaza (one of the oldest mall in Jakarta) that have a limited parking space, and it’s not because the interior is so bad (look at the picture below) but…..

but the staff is very rude.

Actually the girl at the reception is very nice, when I came yesterday evening with my Macbook having problem on the Network button after I download new Java for Mac OS X 10.4 release 7 and Security Update 2008-007 (intel) from my routine automated weekly software update. I came to the dealer but they don’t know how to solve and they said the only place to visit is the Apple Centre (Authorized Service Provider) at Ratu Plaza 3rd Floor.

So, after they look through my Macbook, the technician said that I need to re-install my Macbook. It’s ok with me since I’ve already back-up my data. I thought it will took 2 hours for this service but since they were busy they said I should come again the next day at 12.00 Noon.

Although I used to use my Macbook every night but okay since this place is the only place to go, I agree to leave my Macbook and come again next day.

But today, when I came around 3PM… I’m so surprised that they haven’t done anything with my Macbook and when I’m so angry, the (different) technician said that they were busy and is it possible if I come again tomorrow?

Can you imagine he even dare to ask that question? plus he ask me whether I bring my original CD from my Macbook. “No one ask me to come and bring CD, I supposed to come at 12 Noon to pick up my Macbook, so I want it today..!!!”

“I you angry like that, I might don’t want to do it…. there were so many items need to be fix” he said angrily to me… Wow, I said to myself it’s not my problem you have so many Apple products to fix (btw, makes me wondering whether Apple products have so many problems??? because ever since I used it I have heard very minimum complaint about Apple products.

The technician just left me with no further info. I have to ask the girl at the reception to check on the technician how long I should wait? Finally, I found out i will take 2 hours to re-install it. I went back home and 1 hour later, the reception called inform me that my Macbook done already. I have to go to Ratu Plaza again, find parking space again (my driver off during Sat-Sun) to get my lovely Macbook.

I’m dreaming to have Apple Genius Bar in Jakarta…. When you have questions or need hands-on technical support for your Mac, iPod, Apple TV, or iPhone, you can get FRIENDLY, expert advice at the Genius Bar in any Apple Retail Store. When? Only Steve Jobs knows…

 

Meet Johnny Bunko – The last career guide you’ll ever need September 30, 2008

Inovasi memang tidak pernah berhenti. Please welcome…. Johnny Bunko…. When Business Book collide with Comic. Sebenarnya buku sudah cukup lama… saya sempat lupa lantaran nggak masuk-masuk ke Indonesia.

Beruntung, saat Lentera Jiwa masuk Kick Andy dan ramai dibicarakan di milis-milis, blogs dan facebook tentunya… tiba-tiba saya ingat lagi dengan buku ini.

Langsung, saya buka my lovely white Macbook putih  dan pesan buku ini di amazon.com berhubung dimana-mana tidak ada yang jual.  Mungkin someday saya harus jadi Associate Buyer di sebuah toko buku di Jakarta biar pilihan bukunya seru-seru 😉 Johnny Bunko ini aja banyak banget yang nanya… sayang harus pesen ke amazon.

(Post ini baru saya lanjutkan setelah buku saya terima dan selesai baca)

Wah ternyata enak banget baca buku bisnis versi komik… selesainya cepat (1 malam langsung selesai) dan pesan intinya masuk dengan jelas.

Kebetulan buku ini cukup mirip dengan apa yang saya kerjakan selama ini:

Lesson no. 1. There is no plan

Yup, saya awalnya mengalir saja… I have no plan for my career… but I take a job yang saya suka… I join company who let me do interesting work in a cool place.  Sebut saja mulai dari Majalah Hai sampai akhirnya Hard Rock Cafe Jakarta.

Saya sempet bingung waktu ditanya apakah saya mau jadi fotografer? wartawan? atau restaurateur? Dalam kebingungan itu saya jalankan saja semua pekerjaan saya dengan sebaik mungkin… as long as i relly like the job… waktu tidak terasa… padahal awalnya gajinya sedikit lho…

We need to make a smart choice, bukan hanya dari besaran gaji semata.

Lesson no. 2. Think Strengths, Not Weaknesses

Ini yang mungkin sering dibilang orang, saya terbilang positive thinking… bahkan dalam sebuah program di O Channel, Vera mantan sekretaris saya di HRC dulu juga ingatnya begitu 🙂

“Successful  people don’t try too hard to improve what they’re BAD at.  They capitalize on what they are GOOD at”

Sebenarnya hanya based on reality bahwa setiap manusia itu punya strengths dan weaknesses, nah buat apa kita fokus ke kekurangan kita?

Memang agak susah ya, dulu waktu kecil para guru selalu fokus ke anak-anak yang kurang bagus nilainya.  Kalau matematikanya jelek, kita disuruh les.

Pas kerja, saya coba cara berpikirnya dengan menggunakan teori pelatih sepak bola (Untung juga seneng main Winning Eleven ;)) Setiap pemain punya kekuatan masing-masing… sama seperti karyawan, kita harus fokus ke strengths mereka.

Lesson no. 3. It’s not about You.

Kalau yang ini, sebenarnya saya belajar dari sebuah quotes film Star Wars “He Gives Without the Thought of Rewards”

Jadi saya enjoy pekerjaan saya… tidak berpikir untuk imbalan atau promosi… eh malah saya terus yang di promote 🙂

Malah saya dulu terbilang bandel di HRC… waktu sedang cross training di Bar, saya malah bolos pergi party ke Prambors Cafe bersama pacar saya… eh disana malah ketemu Mas Iwan, Training Manager HRC… Ooppps, gottcha… Untungnya walau saya tidak minta… Mas Iwan tidak aduin ke top level…

Jadi walau saya jadi GM lokal pertama di Hard Rock Cafe se-Asia, saya juga bandel kok 🙂 Yang penting saya selalu berpikir whats best for the company… not for me.  Jadi kalau saya sukses dengan program I Like Monday, saya enjoy sebagai karya saya.  Bukan langsung datang ke boss dan bertanya “Buat saya apa nih boss? Kan I Like Monday udah sukses dan bikin profit gila-gilaan”

Lesson no. 4. Persistence Trumps Talent

Walau saya selalu ‘mengalah’ dan menjalankan sebaik mungkin perintah atasan, namun untuk beberapa ide yang saya sangat ‘percaya’ saya akan terus propose dengan berbagai alasan.

I Like Monday juga cukup lama persiapannya.  Malah sempet serem karena eventnya setiap minggu, sementara waktu itu persiapan mau bikin event Valentine aja perlu beberapa bulan.

So if you want it… you got to BELIEVE… you got to persistence… give more reasons to your bosses to approve you ideas.

Lesson no. 5. Make Excellent Mistakes

Yup, kalau dipikir-pikir sebelum menggelar I Like Monday… tetap ada 50% chance program tersebut gagal lantaran hari Senin memang hari yang sepi dan orang-orang males keluar.

Atau kira-kira mau nggak ya, orang-orang pergi liburan ke tempat yang  masih rahasia.  50% chance program MTV Trax Destination Nowhere akan gagal karena orang-orang gak ada yang mau ikutan.

Tapi saya terus melaju, dengan penuh perhitungan dan kalau masih gagal juga… at least I’ve tried my best to make excellent mistakes 😉 Karena kalau tidak mau punya resiko gagal akhirnya kita akan bikin hal yang sama-sama terus alias mediocre.  Wajar dong kalau gagal, we are trying to do something nobody else has done.

Lesson no. 6. Leave an Imprint

“Sekali ku hidup, sekali ku mati. Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi. Akan kutinggalkan warisan abadi. Semasa hidupku sebelum aku mati”

Demikian sepenggal quotes dari sang Maestro, Gesang yang mengajarkan saya Eternal Heritage alias Warisan Abadi. Lewat lagu Bengawan Solo, ia meninggalkan warisan abadi buat negri tercinta ini.

Walau berharap hidup panjang, kita tidak pernah tau kapan kita dipanggil sama Tuhan.  Makanya semasa hidup, saya ingin bikin hal-hal yang nantinya bisa dikenang sepanjang masa.

“Bagi Yoris, karya monumental adalah cermin dari eksistensinya. Ia merasa ada dan diakui lingkungannya hanya jika mampu menciptakan sebuah karya besar yang pantas dikenang, Maka perjalanan karir diisinya dengan kreativitas, inovasi dan terobosan” demikian ungkapan Yuswohady, salah satu juri Young Marketers Award di majalah SWA edisi YMA.

Sejak di SMA PL, saya tidak mau coret-coret tembok bilang PL Bagus… saya suka orang lain yang bilang bahwa PL bagus…

 

MacBook Air March 1, 2008

Filed under: creative — yoris72sebastian @ 7:58 pm
Tags: , , , ,

picture-21.png

Wah senang sekali bisa menggunakan MacBook Air, the World Thinnest Laptop pada saat OMG Workshop Brand Activation di Ritz Carlton Pacific Place tgl 29 February lalu.

Walau sangat tipis dan ringan (saking tipisnya bisa masuk amplop A4 milik kantor holding saya, Octovate) namun perfomance dari laptop ini cukup mengesankan. Memory 2GB sehingga presentasi saya yang isinya banyak gambar dan video running well.

Screen normal 13″ dan keyboard juga normal ukurannya, jadi ngetiknya juga enak. Malah disaat gelap kita tidak perlu lampu karena keyboardnya sudah memiliki backlight.

Warnanya yang silver dan lembutnya body MacBook Air langsung mendapatkan respon yang sangat bagus dari para peserta seminar pagi itu. Pastinya mereka juga cukup kaget, setelah melihat cuplikan keynote speech Steve Jobs di MacWorld Conference dalam rangka launching MacBook Air, eh laptopnya sudah ada dihadapan mereka.

So far so good. Sangat terkesan!!! Malah sempat kepikiran, jangan-jangan Steve Jobs membuat laptop ini memang dengan tujuan laptop ini muat di amplop. Pasti bukan kebetulan… yah seperti IKEA saja yang selalu menuntut designernya membuat design furniture yang flat sehingga mudah dibawa pulang.