This blog is no longer updated pls post comment to http://yorissebastian.com

Thinking Out of the Box – Execute Inside the Box

The Power of Positive Thinking December 5, 2008

Filed under: inspiration — yoris72sebastian @ 9:30 am
Tags: , , , ,

Saya pernah hadir sebagai narasumber di acara Mario Teguh di O Channel, dalam program tersebut diputar sebuah VT interview tim O Channel dengan Vera, sekertaris saya dulu di HRC… “Yoris tuh orangnya posititive thinking banget…hampir semua hal dilakukannya tanpa pikiran negative” begitulah kira-kira statement Vera yang kini bekerja di San Miguel.

Sadar tidak sadar, saya memang lebih senang positivie thinking dalam menjalani hidup.ย  Lantas pernah ada yang bertanya, bagaimana kalau kita positive tapi orang lain negative ke kita? Kalau saya, simple saja… tidak usah kerjasama lagi dengan orang tersebut.

Saya juga banyak pikiran-pikiran positive yang saya tanam dalam otak saya, misalnya saja waktu kakak saya Pinky Mirror berhasil memotret Pangeran Charles dan Lady Diana saat datang ke Taman Mini… kalau nggak salah tahun 1989 dulu… saat melihat foto… saya sempat berguman pada diri saya… “Kalau saya sih maunya akan ketemu dengan Pangeran Charles dan salaman bukan hanya memotret dari jarak jauh”

Kalau saat itu saya ceritakan pada kakak saya atau pada teman-teman saya, pasti mereka akan tertawa dan mengatakan bahwa saya cukup bermimpi.ย  Tapi belum lama ini, saya benar benar bertemu dan salaman dengan Pangeran Charles lantaran prestasi saya sebagai pemenang International Young Creative Entrpreneur Award dari British Council dan sekarang aktif mengangkatย  industri kreatif Indonesia.

yoris-meet-prince-charles

Jadi memiliki positive thinking ternyata bisa berbuah positive, baik jangka pendek maupun jangka panjang.ย  Saya setuju kalau ada yang bilang orang tidak akan sukses kalau mereka selalu bilang sama diri mereka sendiri bahwa diri mereka tidak akan sukses.

Saya sangat suka dengan terbitnya buku ‘The Secret’ karangan Rhonda Byrne (walau belum sempat baca) namun reviewnya jelas memberikan penjelasan bagaimana powerful nya positive thinking itu.

Walau tentunya, positive thinking harus yang make sense… ๐Ÿ˜‰ So start making those positive thinking habits… setuju?

 

Industri Kreatif – Jangan Menunggu Fasilitas September 30, 2008

Yup, sebenarnya itu komentar saya soal industri musik 2 tahun lalu saat interview dengan Orin, wartawan Kompas yang meliput IYCEY 2006 untuk kategori musik yang diselenggarakan oleh British Council. Seperti kita tau, musik Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negri sendiri walau tidak ada fasilitas quota untuk lagu barat dijalankan. (Saat ini para musisi Malaysia sedang mengajukan peraturan untuk pembatasan lagu Indonesia yang diputar di radio-radio. Maklum lagu-lagu kita mendominasi radio dan juga berbagai award di Malaysia).

Sejak kemenangan saya di London itulah, saya mulai sering diundang berbagai pihak (termasuk pemerintah) untuk berbicara soal industri kreatif. Maklum, Inggris memang merupakan negara pertama yang mengangkat industri kreatif sebagai salah satu industri andalan setelah pabrik-pabrik yang dulunya menjadi primadona terpukul oleh pabrik-pabrik asal China yang mampu memberikan qualitas yang sama dengan harga yang relatif murah. Akhirnya Inggris terjebak perang komoditas dan kalah. Untung mereka segera sadar bahwa dulu mereka sebenarnya banyak mendapatkan penerimaan pajak dari musik misalnya… sebut saja Rolling Stones, The Beatles dan masih banyak lagi musisi Inggris yang berjaya di dunia termasuk di Amerika.

Dalam pertemuan awal dengan Departemen Perdagangan, saat itu mereka sedang merancang Indonesia Design Power (yang akhirnya menjadi bibit awal Indonesian Creative Economy lahir). Apalagi wartawan mulai rajin menulis soal industri kreatif. Bola salju terus menggelinding, mendadak semua pihak heboh dengan industri kreatif (yang isinya sebenarnya bukan hal baru di Indonesia) sampai akhirnya DepDag siap dengan konsep cetak biru Creative Economy Indonesia yang disebut dengan “Triple Helix” dimana diperlukan peran serta dari 3 pihak yaitu Pemerintah, Akademisi dan Pengusaha sebagai fondasi industri kreatif Indonesia.

Terus terang banyak yang antipati ataupun pesimis dengan ide ini. Saya sendiri walau tetap mencoba jalan terus dengan segala keadaan yang ada, tetap merasa optimis bahwa bila cetak biru ini diteruskan akan memberikan hasil yang baik di kemudian hari. Bila Pemerintah, akademisi dan pengusaha menjalankan peran mereka sesuai cetak biru, niscaya perekonomian kita bisa sangat terbantu oleh industri kreatif.

industri-kreatif

Beberapa hari lalu, Kompas sempat membuat fokus soal industri kreatif dan dalam satu artikelnya berjudul “Jangan sampai padam di tengah jalan” dan takut hanya menjadi jualan menjelang pemilu. Saya jadi ingat saat saya ikut menjadi salah satu pembicara di seminar sehari membahas industri kreatif di ITB, waktu itu Bandung sedang ramai dengan pemilihan Calon Gubernur. Yang menarik, semua calon Gubernur mencanangkan Industri Kreatif sebagai program kerja mereka.

Nah, mudah-mudahan para calon presiden nanti juga masing-masing mengusung program Industri Kreatif di program kerja mereka… ๐Ÿ˜‰ We have to show them that this is a good industry to be include on their program.

Kembali ke para pemain industri kreatif, sebenarnya spirit entrepreneurship yang sudah ada selama ini jangan sampai melemah lantaran mulai ramainya dukungan dari pemerintah. Dalam salah satu sesi karantina finalist IYCEY 2008-9 lalu, saya juga sempat ingatkan bahwa industri kreatif will find their way… jangan menunggu fasilitas dari pemerintah. Kalau memang dapat…. gunakan dengan baik, kalau tidak dapat…. masih banyak jalan untuk sukses.

Industri fashion berkembang dengan pesat. Lihat saja KickFest di Bandung mampu menghasilkan sales lebih dari 16 Milliar dalam tempo 3 hari exhibition dari para Distro papan atas asal Jawa Barat.

Coba lihat gambar dibawah ini, salah bukti nyata industri film kita sudah menjadi tuan rumah di negri sendiri. Quota film barat yang dibuka oleh pemerintah tidak menutupi para sineas kita untuk bekerja keras dan memenangkan ‘pertarungan’ mendapatkan theatre… (Sineas kita tidak perlu minta quota film barat diberlakukan lagi untuk mendapat tempat di bioskop) Kalau keliling-keliling kota senang melihat hampir semua bioskop dengan 4 studio semuanya film lokal ๐Ÿ™‚ Belum lagi Laskar Pelangi full house terus dengan 2 studio ๐Ÿ™‚

Industri Kreatif Indonesia harus bisa mandiri… kalau dapat fasilitas, bisa maju lebih kencang, tidak dapat fasilitas… tetap bisa maju ๐Ÿ˜€