This blog is no longer updated pls post comment to http://yorissebastian.com

Thinking Out of the Box – Execute Inside the Box

Belajar Sejarah – Tan Joe Hok December 7, 2008

Filed under: inspiration,sport — yoris72sebastian @ 10:50 am
Tags: , , ,

Saya terpukau dengan Rudy Hartono, pemenang All England 8 kali.  Saya terpukau dengan Liem Swie King yang terkenal dengan ‘King Smash’ nya. Namun saya hanya tau nama Tan Joe Hok sebagai pemain bulu tangkis legendaris Indonesia.

Sampai hari ini, harian Kompas menurunkan tulisan mengenai TJH yang notabene orang Indonesia pertama yang memenangkan All England.  Baru saya sadar betapa kurangnya pendidikan sejarah ‘inspirational’ yang dulu saya dapatkan di sekolah.  Bagaimana TJH menjadi juara nasional di usia 17 tahun denga penuh perjuangan.  Cerita-cerita seperti ini yang perlu diajarkan di sekolah-sekolah sehingga murid-murid terinspirasi untuk bekerja keras mengejar cita-cita seperti Tan Joe Hok dan banyak tokoh sukses lainnya.

Saya menjadi General Manager Hard Rock Cafe termuda di Asia dan kedua di dunia di usia 26 tahun, namun itu terjadi secara accident bukan merupakan target.  Mungkin kalau dulu saya tau kisah sejarah TJH, bukan tidak mungkin menjadi pendorong saya untuk menjadi sukses di usia yang lebih muda lagi.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

FOTO: KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Atau… jangan-jangan sekarang metode pengajaran sejarah sudah berubah? tidak seperti dulu jaman saya sekolah lagi? Dulu sih pelajaran sejarah kurang inspiring ya…

Blogged with the Flock Browser

Tags: , , , , ,

 

Creative City Branding November 30, 2008

Saya baru pulang dari Malang. Saya menjadi salah satu pembicara di Djarum Black Innovation Awards goes to Campus. Di pesawat Sriwijaya Air, saya membaca rencana ‘Visit Babel Archipelago 2010’ yang dicanangkan oleh Menteri Perhubungan – Jusman Syafii Djamal, Dirjen Pemasaran DepBudPar – Sapta Nirwandar, Gubernur Bangka Belitung – Eko Maulana Ali dan pejabat lokal lainnya untuk merencanakan Tahun Kunjungan Wisata Bangka Belitung.

Memang sejak Laskar Pelangi naik ke layar lebar, Belitung langsung naik daun dan mendadak orang terkesima dengan indahnya daerah tersebut.

belitung-by-artonpower-photography-flickr

Setelah tambang timah tak lagi menjadi andalan, pariwisata sangat strategis dijadikan pemasukan untuk daearah ini. Apalagi jaraknya hanya 50 menit dengan pesawat udara dari Jakarta. Belum lagi kalau ingin meraih wisatawan asal Singapore dan Malaysia.

Belajar dari Inggris yang pabrik-pabriknya tutup lantaran kalah bersaing dengan pabrik-pabrik asal China, mereka maju lewat industri kreatif. Saya sempat ke Manchester dalam rangka kompetisi International Young Creative Entrepreneur of the Year di tahun 2006, pabrik-pabrik disana dilestarikan dan dijadikan obyek wisata.

Di luar sana, pemerintah pusat dan pemerintah lokal membuat konsep jangka panjang dalam perencanaan promosi kota. Contoh yang paling legendaris adalah Museum Guggenheim di Bilbao yang dirancang oleh arsitek kenamaan Frank Gehry dan dibuka untuk umum di tahun 1997. Dua tahun kemudian, museum ini masuk dalam film James Bond berjudul The World is not Enough dan setelah itu jumlah turis yang datang untuk melihat museum tersebut lanjut meledak. Kejadian ini kemudian dikenal dengan sebutan ‘Bilbao Effect’ dan memberi inspirasi untuk banyak ‘wow-factor’ architecture dimana-mana.

guggenheim-museum-bilbao

Kalau kita melongok New York, kota yang sempat kena serangan bom 911, namun berbagai plot film yang diambil disini membuat turis seakan tak berhenti untuk datang. Mulai dari Patung Liberty, berbagai pertunjukan theatre di Broadway, Central Park, Manhattan, Times Square sampai toko dessert bernama Serendipity yang semuanya muncul di film-film blockbuster membuat New York tetap ramai pasca bom di WTC. Banyaknya turis juga ditunjang dengan semakin baiknya polisi NYPD menjaga jalanan aman, tidak seperti dulu yang sangat berbahaya jalan. Jadi infra-structure juga harus siap untuk menampung 40 juta turis setiap tahunnya.

Jadi bayangkan kalau di saat film Laskar Pelangi diputar, segala infra-structure pariwisata di Bangka Belitung sudah siap jual…. tentu momentumnya akan sangat luar biasa.

Anyway, better late than never… semoga kota-kota lain melalui APBD nya semakin kreatif menggunakan budget tersebut… masih banyak keindahan alam yang bisa diangkat… masih banyak area yang bisa dibangun ‘wow-factor’ architecture sehingga mengangkat area tersebut dan memberi nilai ekonomi lebih.

Laskar Pelangi telah membuka jalan…

 

Sumpah Pemuda 2.0 October 28, 2008

Hari ini 80 tahun Sumpah Pemuda. Saya sebenarnya sangat ingin menggunakan momentum ini sebagai moment untuk membuat orang-orang muda makin nasionalis dan cinta tanah air. Semangat nasionalisme semakin banyak terlihat dari orang muda kita secara modern. Lihat saja VJ MTV Daniel Mananta, yang baru saja meluncurkan baju-baju trendy berlabel DAMN ‘I Love Indonesia’ di FX mall Jakarta.

Cutting seperti Zara, Warna-warna yang modern membalut design-design yang memamerkan budaya Indonesia. Yup, Daniel hanyalah satu dari sekian banyak pop culture yang mulai mengarah ke akar budaya kita sendiri.

Saya sendiri sengaja sering pake baju Garuda Indonesia dan Jendral Sudirman yang saya beli di Alun-Alun Grand Indonesia, untuk menunjukkan bahwa anak-anak muda juga mau menggunakan pakaian yang berbau nasionalis selama tetap disajikan secara modern.

Batik makin menjadi trend karena di-design secara modern. Jadi sebenarnya banyak peluang saat ini kalau kita kreatif membaca peluang. Daniel, yang juga host Indonesian Idol dengan cermat membaca peluang ini. Saya berharap product line ini juga bisa merambah ke luar negri. Seharusnya banyak perusahaan yang juga mengambil moment ini.

Saya yakin, kalau cartoon lokal nantinya akan merajai bioskop Indonesia selama digarap dengan baik dan modern. Saya yakin teater lokal bisa laku keras dengan cerita lokal yang kuat dan digarap dengan standar yang baik. Saya yakin alat musik traditional selama digarap dengan gaya populer nanti akan laku juga. Dan masih banyak lagi contoh…

Mudah-mudahan makin banyak perusahaan yang mau ‘melirik’ potensi tanah air. Seperti BRI Platinum mendanai Bazaar Fashion Concerto dengan tema ‘Tanah Air’

Saat ini semangat nasionalisme sedang tinggi-tingginya. Nasionalisme namun modern. Dan nasionalisme ini bisa mempersatukan bangsa. Itulah Sumpah Pemuda 2.0

 

Trend Batik June 22, 2008

Filed under: indonesia — yoris72sebastian @ 3:54 pm
Tags: , , , , , , ,

Seneng juga melihat Batik menjadi trend saat ini.  Bukan hanya di Pekan Produk Budaya Indonesia minggu lalu, dimana saya menjadi moderator untuk talkshow mengenai Industri Musik sebagai salah satu industri penting di Industri Kreatif yang diharapkan menjadi salah satu penunjang dicapainya Indonesia Emas 2030.

Jadi pake Batik sekarang tidak hanya ke kawinan, sudah mulai banyak batik casual yang keren-keren sehingga mau itu ke mall, ke event-event dan juga ke gereja semua orang pakai batik 🙂  Yang seru-seru sih tentunya buat para wanita ya.. pilihan mereka jauh lebih banyak.  Untuk kaum pria kayaknya belum sebanyak perempuan ya (saya aja masih harus jahit karena batik yang ‘ready to wear’ belum banyak yang modern).  Anak kecil juga sudah mulai banyak pilihan batiknya.

Jadi sebenarnya tidak perlu takut anak-anak muda modern, toh mereka juga tetap akan cinta dengan budayanya selama disajikan dengan baik dan modern.  Salah satu baju favorit saya saat ini adalah baju gambar Garuda Pancasila yang saya beli di Alun Alun Grand Indonesia.  Dipakai kemana-mana selalu diperhatiin dan ditanya orang beli dimana? ;-p

 

MeTooIsm March 29, 2008

Filed under: creative,music — yoris72sebastian @ 12:27 pm
Tags: , , , , , , ,

Dalam peluncuran single pertama dari dr.m bulan lalu (Lentera Jiwa – Nugie), berkat support dari British Council sebagai hadiah atas kemenangan saya di International Young Creative Entrepreneur of the Year 2006, saya mendatangkan Ben Drury dari 7 Digital, UK.

Dia salah satu dari sekian banyak successful entrepreneur di UK yang hidup dari penjualan musik melalui jalur digital. Penjualan musik melalui internet memang sangat besar di UK maupun di USA. Banyak music trade show yang saya kunjungi dan rata-rata booth-nya sudah dikuasi oleh para digital music entrepreneur, seperti Ben.

ys-joe-ben2.jpg

Yoris Sebastian (Project Goliath & dr.m), Joseph L. Gaol (m-stars) and Ben Drury (7 Digital)

Namun inspiring stories from overseas, jangan kita telan bulat-bulat. Internet penetration kita masih kecil. Sehingga bila membuat website digital musik respond-nya belum tentu sebagus di luar karena internet connection masih sangat slow.

Memang seringkali kita terjebak dengan yang namanya MeTooIsm, kebiasaan ikut-ikutan tanpa ada unsur kreativitas dan tanpa riset yang memadai. Padahal sesuatu yang sukses di luar negri belum tentu bisa di-copy paste bulat-bulat.

Di Indonesia, setelah kembali dari London saya melihat adanya peluang untuk industri musik Indonesia, yes digital music distribution but not from internet tapi dari handphone. Maklum orang Indonesia kan memang gila handphone. Mereka bisa beli handphone mahal daripada membeli handphone biasa-biasa saja plus pc buat di rumah.

Kita memiliki hampir 100 juta mobile users. Tak heran bila Samsons, Ungu, Nidji dan berbagai band rising stars lainnya melaju dengan cepat lantaran Ring Back Tone mereka laku keras. Kenapa mereka mampu menjual jutaan RBT walaupun mereka muka baru? Karena RBT belum terbajak.

Dari situlah, dr.m lahir. Daripada meniru website musik di luar negri, lebih create sesuatu yang lebih Indonesia. Melalui dr.m penyebaran Full Track Download dimulai. Babak baru yang perlu di-support seluruh pelaku industry musik sebelum sales RBT menurun karena market yang mulai mature dan sadar ngapain bayar lagu yang tidak didengerin sendiri (dan ada satu rahasia lain yang tidak bisa saya sebutkan saat ini)

So, join us at dr.m to cure the music industry in Indonesia…!!!

 

Lentera Jiwa March 28, 2008

Filed under: indonesia,music — yoris72sebastian @ 6:17 pm
Tags: , , , , ,

Apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah sesuai dengan passion kita? Sesuai yang kita sukai, yang kalau kita lakukan berjam-jam sekalipun waktu tidak terasa berlalu. Seperti Indy Barends yang tidak sukses di bidang marketing ataupun menjadi sekertaris di Hard Rock FM, akhirnya malah sukses sekali di dunia hiburan.

Lama sudah kumencari.. apa yang hendak kulakukan.. segala titik kujelajahi.. tiada satupun kumengerti.. tersesatkah aku? Di samudera hidup…

Kata-kata yang kubaca.. terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan… bilakah kau tau jawabnya?

Inikah jalanku..? Inikah takdirku..? kubiarkan, kumengikuti, suara dalam hati, yang selalu membunyikan cinta.. kupercaya dan kuyakini murninya nurani.. menjadi penunjuk jalanku.. LENTERA JIWAKU

Demikian penggalan lagu terbaru dari Nugie yang hanya dikeluarkan dalam bentuk digital.

ys-nugie-lentera-jiwa.jpg

Melalui lagu tersebut, Nugie seolah bertanya apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah sesuai dengan passion yang kita? Banyak yang bilang bahwa bila kita melakukan apa yang kita sukai maka hasilnya akan lebih baik dan lebih maksimal. sudah banyak contoh tokoh Indonesa yang sukses karena mengikuti Lentera Jiwa mereka, walau terkadang sempat sekolah di tempat yang kurang sesuai dengan passion mereka.

Berapa banyak teman kita yang kuliah, sekedar kuliah namun akhirnya bekerja tidak sesuai dengan bidang tersebut. Sementara bila kita bertanya kepada teman kita, “Apa Passion mu?” Banyak yang tidak bisa menjawab karena sudah terbiasa sejak kecil disuruh atau diarahkan.

Bila pendidikan yang kita jalankan bukan sesuai Passion kita, bisa jadi pendidikan tersebut tidak akan terlalu berguna di kemudian hari walau kita sudah menghabiskan banyak biaya kuliah. (Baca Kompas 28/2/08 Jumlah Sarjana S1 menganggur 409.890 belum lagi pengangguran dengan gelar diploma)

Atau bila yang kita kerjakan di tahun ini tidak ada ubahnya dari yang kita lakukan di 2007 dan membuat kita menjadi jenuh, sebenarnya anda dalam posisi loose – loose dengan perusahaan tempat anda bekerja. Anda rugi karena tidak memiliki kemajuan, sementara perusahaan juga rugi karena kejenuhan biasanya menimbulkan penurunan efektivitas kerja.

Have you found your Passion? Saya sih sudah bekerja sesuai dengan Lentera Jiwa, bagaimana dengan anda?

http://www.nexxg.com

 

Premiumization January 27, 2008

Filed under: creative — yoris72sebastian @ 3:55 pm
Tags: , , , , ,

Premiumization adalah menambah product premium atau pengalamanan premium dari produk atau jasa yang selama ini ditawarkan oleh sebuah brand. Langkah ini yang sebaiknya dilakukan oleh market leader untuk terus menaikkan standard. Walau tidak tertutup kemungkinan untuk challenger brand masuk. Apalagi kalau market leader sedang tidur 🙂

Inilah langkah yang perlu dilakukan daripada melulu bersaing secara harga yang akhirnya membawa brand atau produk menjadi komoditas. Apalagi yang harus diingat, semua hal yang dulu Premium nantinya akan turun menjadi sesuatu yang wajib untuk generasi berikutnya. Ingat, dulu Handphone sesuatu yang premium? lalu plasma or LCD tv?

Pemilik brand harus kreatif dalam mendengarkan keinginan konsumennya. Sesuatu yang selama ini tidak terbeli atau pengalaman premium yang selama ini belum dirasakan… selama biayanya masih masuk budget, kenapa tidak diberikan pada konsumen?

Contoh paling gampang, EX yang menampilkan top 40 band setiap malam. Bayangkan dulu orang harus bayar untuk nonton band di cafe sekarang diberikan gratis oleh mall. Biaya band ditanggung oleh budget promotions, daripada hanya bermain ATL, mereka melakukan hal yang premium dengan memberikan pengalaman premium. Demikian pula dengan Blitz Megaplex yang memberikan band top 40 gratis. Artinya cafe harus menawarkan sesuatu yang lebih premium lagi. Lebih dari sekedar band top 40 yang bagus.

Masih banyak pengalaman premium yang bisa diberikan oleh mall dengan biaya promotions yang biasanya 1% dari total rental para tenant. Masalahnya mau kreatif atau sekedar mengekor. As we know, sekarang banyak sekali mall yang menampilkan band top 40 juga mengikuti jejak EX.

Celebrity Fitness menjual fitness yang dulunya mahal dan sifatnya destination, menjadi affordable dan impulse.
Mereka dengan tepat melihat adanya kesempatan untuk Premiumization Fitness Centre. Sekarang sudah menjamur. Nah mereka harus terus menaikkan standard premiumnya. Karena segala yang sudah sama lantas menjadi komoditas.

Di Indonesia kebanyakan memang masih dari service industry. Sementara industry manufaktur biasanya melulu pada premium produknya dan kebanyakan didominasi produk luar negri (maklum produk dalam negri biasanya sibuk berperang harga). Misalnya air putih EVIAN sudah meluncurkan limited edition PALACE bottle yang di sajikan dengan coaster stainless steel. Kalau nonton MTV Awards dan awards2 lainnya, ada sebuah brand bernama Bling H20 yang menggunakan bottle dari Swarovski Crystal.

Proses Premiumisasi biasanya terjebak dengan menggunakan orang yang salah dan tidak mengerti esensi dari premium itu sendiri karena terkadang mereka memang tidak bermain di premium sebelumnya. Namun hanya karena latah akhirnya mau untung malah jadi buntung.

Premiumisasi ditujukan untuk konsumer. Jangan hanya copy paste yang terjadi di luar negri. Misalnya soal Evian diatas. Sangat tidak cocok untuk market Indonesia.

Saya jadi ingat, Cozy spa di Bali yang menjadi pelopor untuk reflexy menggunakan personal music melalui personal CD player.  Waktu mereka buka franchise, dan tidak menggunakan personal CD player, experience yang dirasakan langsung berbeda dan cabang di kota lain tersebut tidak sesukses Cozy di Bali.  Sekarang di Cozy spa Jakarta malah sudah menggunakan MP3 player untuk memilih personal music yang variasinya lebih banyak lagi.  Ingat, premiumization harus terus maju, tidak boleh berhenti di 1 titik.

Singapore airline, terus melaju dengan Airbus A-380 dan tentunya Suite Class.  Kelas yang lebih tinggi dari First Class.  Market leader harus terus maju dan set standar industri.

Premiumisasi memang terkesan berbiaya tinggi, padahal bila kita kreatif tidak perlu demikian. Sayang saya belum bisa menjelaskan beberapa ide ‘fresh’ premiumisasi karena belum kontrak dan takut ditiru competitor karena Premiumisasi sangat mudah ditiru competitor.

Intinya dengan expenses yang sama, kita bisa melakukan premiumisasi kok.
Premiumization tidak melulu menaikkan biaya produksi, tidak mustahil dengan biaya yang sama namun sedikit kreatif dan buka mata terhadap sekeliling. Listen to your customer… listen with your heart.

Ciri-ciri produk/jasa premium adalah jumlahnya yang sedikit saat ini dan biasanya mahal harganya. Contoh Premiumizaton yang cerdas di Indonesia adalah Silver Bird dimana mereka kini menggunakan Mercedes-Benz. Di saat bensin naik dan memaksa mereka menaikkan tarif, makin sedikit orang yang mau naik silver bird saat itu. Namun dengan mercy, mungkin sekarang untuk jarak tempuh dekat, orang yang tidak pernah naik mercy akan bela-belain naik silver bird. Bayar sedikit lebih mahal untuk sebuah premium experience. Saya tidak punya data kenaikan revenue silver bird, namun secara teori pasti ada kenaikan yang signifikan.

silver-bird-benz.png

Selain itu Celebrity Fitness yang merevolusi dunia fitness di Indonesia dengan Premiumizationnya. Siapapun bisa merasakan fitness seperti layaknya seorang celebrities.

Mungkin kalau Silver Bird launch sebelum bensin naik, hanya dengan gaya copy paste karena di Singapore, Jerman dan banyak negara lain, Mercy memang dipakai jadi taksi, menjadi tidak relevan dan sukses.
Namun, Premiumization ini dilakukan disaat yang tepat. Harga lebih mahal namun pengalaman premium didapatkan.

Tidak ada salahnya mempunyai wawasan yang luas. Yang salah adalah terlalu gampang copy paste apa yang dilihat di luar negri ;-p