This blog is no longer updated pls post comment to http://yorissebastian.com

Thinking Out of the Box – Execute Inside the Box

Belajar Sejarah – Tan Joe Hok December 7, 2008

Filed under: inspiration,sport — yoris72sebastian @ 10:50 am
Tags: , , ,

Saya terpukau dengan Rudy Hartono, pemenang All England 8 kali.  Saya terpukau dengan Liem Swie King yang terkenal dengan ‘King Smash’ nya. Namun saya hanya tau nama Tan Joe Hok sebagai pemain bulu tangkis legendaris Indonesia.

Sampai hari ini, harian Kompas menurunkan tulisan mengenai TJH yang notabene orang Indonesia pertama yang memenangkan All England.  Baru saya sadar betapa kurangnya pendidikan sejarah ‘inspirational’ yang dulu saya dapatkan di sekolah.  Bagaimana TJH menjadi juara nasional di usia 17 tahun denga penuh perjuangan.  Cerita-cerita seperti ini yang perlu diajarkan di sekolah-sekolah sehingga murid-murid terinspirasi untuk bekerja keras mengejar cita-cita seperti Tan Joe Hok dan banyak tokoh sukses lainnya.

Saya menjadi General Manager Hard Rock Cafe termuda di Asia dan kedua di dunia di usia 26 tahun, namun itu terjadi secara accident bukan merupakan target.  Mungkin kalau dulu saya tau kisah sejarah TJH, bukan tidak mungkin menjadi pendorong saya untuk menjadi sukses di usia yang lebih muda lagi.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

FOTO: KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Atau… jangan-jangan sekarang metode pengajaran sejarah sudah berubah? tidak seperti dulu jaman saya sekolah lagi? Dulu sih pelajaran sejarah kurang inspiring ya…

Blogged with the Flock Browser

Tags: , , , , ,

Advertisements
 

Lewis Hamilton – Akhirnya Menang Juga November 6, 2008

lewis-hamilton

Yup, Lewis Hamilton akhirnya tahun ini menjadi juara dunia balap Formula 1 dan sekaligus memecahkan rekor sebagai pembalap termuda di usia 23 tahun, 9 bulan, dan 26 hari. Sebelumnya, rekor juara dunia termuda dipegang Fernando Alonso dengan 24 tahun 1 bulan 7 hari.

Sebenarnya tahun lalu saat memulai GP terakhir di Brasil, Hamilton unggul empat poin dari Fernando Alonso dan tujuh poin di depan Kimi Raikkonen. Tahun ini, sebagai pemimpin klasemen dan juga unggul 7 poin dari Felipe Massa.

Sebenarnya Hamilton yang satu tim dengan Fernando Alonso bisa meraih gelar juara dunia, bila saja mereka bekerja-sama atau at least bersaing secara sehat namun tetap mengutamakan kepentingan tim. Seperti kita ketahui akhirnya malah Kimi yang menjadi Juara Dunia.

Sama seperti di kehidupan kita sehari-hari, tak jarang kita juga melupakan yang namanya team work. Padahal untuk menang diperlukan team work yang kuat. Team work harus didasari pemikiran win-win. Sementara kebanyakan orang dari kecil sudah dibiasakan oleh orang tua mereka untuk ‘win’ no matter how you do it.

Contoh simple, saat ada pertanyaan berhadiah di dalam sebuah acara untuk anak-anak kecil, apa yang dilakukan orang tua? membisiki jawaban ke anaknya supaya mereka mendapatkan hadiah. Artinya secara tidak sengaja sang orang tua mengajarkan anaknya untuk menang tanpa peduli bagaimana caranya.

Akhirnya pada saat anak-anak itu besar, mereka diharapkan berpikir dan beritndak win-win. Tentunya akan sangat sulit merubah kebiasaan dari kecil. But hey, better late than never 😉 So I suggest to start your ‘win-win’ thinking habit from now on.

Kemenangan Hamilton di usia sangat muda, memang saat ini semakin mewabah. Saat tulisan ini saya ketik Barack Obama yang baru berusia 47 tahun berhasil menjadi Presiden America, mengalahkan John McCain yang berusia 72 tahun.

Barack Obama menggandeng Joe Biden berusia 68 tahun sebagai Wakil Presiden. Sebuah kombinasi muda dan tua menjadi kekuatan yang luar biasa. Bahkan duo David dibalik sukses Obama-Biden juga berasal dari dua generasi berbeda, David Plouffe, sang manajer kampanye berusia 41 tahun, sementara David Axelrod sang ahli strategi berusia 12 tahun lebih tua (53).

obama-biden08small

Mungkin sama dengan Lewis Hamilton yang didukung oleh para senior di team McLaren. Jadi orang muda memang sedang berada di di era yang memungkinkan untuk mereka ‘menang’ dan ‘sukses’ di berbagai bidang, namun pengalaman dari para senior tetap diperlukan. Saya sendiri sampai sekarang tidak bosan-bosan ‘berguru’ dengan para senior, walau tak jarang decision making saya memang penuh resiko. Namun selama resiko tersebut terukur… saya tancap terus 😉

 

Perlu dukungan serius August 16, 2008

Yup, begitulah artikel kompas hari ini soal olahraga Angkat Besi yang sudah tiga olimpiade berturut-turut meraih medali untuk Indonesia. Tahun ini Angkat Besi kembali membuat bendera Merah Putih berkibar di pentas olahraga tingkat dunia, lewat 2 lifter nasional Triyatno dan Eko Yuli Irawan.

Lagi-lagi, sebuah hasil maksimal dari sebuah persiapan yang tidak maksimal. Mengutip artikel di kompas, disebutkan persiapan tim Angkat Besi baru 1-2 tahun menjelang olimpiade digelar. Wah bagaimana ya kalau persiapannya lebih serius dan lebih panjang lagi.

Belum lagi di salah satu tv nasional, dipertontonkan bahwa Triyatno dulu awalnya latihan angkat besi lantaran diberi uang, bukan karena dia suka dan merasa punya ‘passion’ di olahraga ini.

Memang agak sulit untuk membuat orang tertarik dengan olahraga yang kurang populer namun berprestasi international. Saya dan mungkin sebagian besar orang di indonesia malah tidak ingat dengan nama para pahlawan olahraga yang meraih medali dari angkat besi di olimpiade Sydney 2000 dan Athena 2004.

Yang saya ingat adalah peraih medali emas olimpiade dari cabang bulutangkis. Bulutangkis, seperti cabang Angkat Besi selalu menyumbang medali (tradisi emas, bahkan) untuk Indonesia sejak cabang ini dipertandingkan di olimpiade.

"Awas angin ac..."

Walau lebih populer dibanding angkat besi, Bulutangkis pun mulai merosot popularitas dan prestasinya. Masih beruntung kita ada Trans TV yang pada Piala Thomas-Uber lalu cukup ‘kencang’ mengangkat kebanggaan akan olahraga yang dulunya sempat sangat kuat popularitas dan prestasinya ini. (Saya malah waktu kecil ikut antri untuk foto bareng dengan Piala Thomas)

Namun popularitas olahraga kebanggaan kita ini pun mulai surut seiring dengan merosotnya prestasi para atlit bulutangkis. Yang saya takutkan dengan makin banyaknya pemain Indonesia ‘dibajak’ ke luar negri sebagai pemain import disana dengan segala fasilitas yang memadai, maka prestasi bulutangkis kita pun makin menurun. Bahkan ada yang sampai pindah warga negara… wah wah wah… sayang sekali ya… sementara negara lain makin maju prestasinya, kita kok malah merosot.

Sadarkah kita bahwa Jakarta tidak memiliki stadium yang standar international untuk menggelar pertandingan bulutangkis? Istora tidak dirancang untuk memiliki AC sehingga pada saat pertandingan, semburan AC mengganggu arah dan laju shuttle cock.

Padahal animo masyarakat masih cukup kuat, saya saja tidak kebagian tiket semifinal Thomas dan Final Uber Cup lalu. Antrian panjang penonton bulutangkis juga terlihat di depan Istora. Kalau mau beneran belajar dari beberapa negara luar (studi banding beneran), indoor stadium bisa dirancang untuk beberapa fungsi, seperti olahraga, musik, exhibition dan banyak hal lain yang profitable.

Bayangkan bila gedung tersebut juga memampang semua prestasi olahraga bulutangkis kita layaknya sebuah musium modern yang nyaman didatangi… Cross our finger… we will have it in the future.

Every business is a creative business… including sport business 😉