This blog is no longer updated pls post comment to http://yorissebastian.com

Thinking Out of the Box – Execute Inside the Box

Rajin Membaca Pangkal Kreatif December 27, 2007

Filed under: creative — yoris72sebastian @ 6:30 pm
Tags: , ,

many-books.png

Setiap seminar atau sharing yang saya berikan, sering muncul pertanyaan “Gimana sih caranya untuk terus kreatif? Kayaknya idenya gak habis-habis? Apa yang harus dilakukan pada saat habis ide?” Jawabannya sebenarnya banyak, salah satu yang mau saya highlights adalah membaca. Kalau orang dulu suka bilang: rajin menabung pangkal kaya, saya bilang rajin membaca pangkal kreatif.

Rajin membaca, baik itu buku ataupun majalah tentu akan memperkaya wawasan dan pengetahuan kita. As a start, buat yang ngak suka baca buku, beli buku yang bisa menjadi problem solve. Misalnya bingung kerjasama dengan teman kerja, beli buku soal team-working. Kalau baru di-promote dan bingung cara memimpin teman-teman yang sekarang notabene anak buah kalian, beli buku soal leadership yang khusus untuk new leader. Nah, kalau bingung kenapa sudah kerja sekian lama tidak juga di-promote, beli buku career development.

Nah, karena sifatnya problem solver, lebih seru membacanya karena langsung related. Setelah manfaatnya terasa, mudah-mudahan anda bisa menjadikan reading as habit. Saya sendiri dulunya tidak suka membaca, jadi jangan takut untuk yang tidak suka membaca. Saya mulai suka membaca sebenarnya karena terinspirasi oleh cerita Sangaji dalam drama televisi ACI (Aku Cinta Indonesia) yang kerjanya membaca koran bekas namun jadi lebih pinter dibanding murid seusianya yang sekolah.

Sejak itu saya mulai mencoba untuk membaca. Setiap ke tempat teman yang punya banyak buku, saya pinjam. Jaman itu belum ada aksara bookstore atau Kinokuniya. Sekarang malah sangat nyaman pesan di Amazon.com kalau di toko buku langganan saya kebetulan tidak tersedia (jarang sih, koleksi buku baru sudah cukup update). Malah sekarang di Amazon.com kita bisa sneak preview buku yang mau kita beli, seperti kalau kita beli buku di toko buku biasa. Menyenangkan ya.

Semakin sering membaca, semakin terasa manfaatnya. Kalau soal marketing, banyak sekali buku favorit saya seperti The End of Marketing As We Know It, Raving Fans, Buzz Marketing, Purple Cow, Maverick at Work, 22 Immutable Laws of Branding, The Long Tail dan yang terakhir saya beli “The Houdini Solution: Put Creativity and Innovation to work by thinking inside the box” dimana kita diajarkan untuk tidak melulu berpikir out of the box sementara inside the box-nya belum dijalankan. Betul juga, lama-lama out of the box sudah over-used dan kadang karena mencoba terlalu out of the box jadi tidak relevan dengan brand maupun produknya sendiri.

Buku hanya menjadi wawasan. Menjadi inspirasi. Jangan ditelan bulat-bulat. Indonesia bukan Amerika ataupun bukan Inggris. Seperti membaca buku Rich Dad Poor Dad sekitar lima tahun yang lalu, bukan berarti saya langsung mau jadi entrepreneur. Tapi saya jadi mengerti bahwa kalau kita mampu sedikit berhemat, pelan-pelan let the money works me; not me for the money.

Kalau dulu Sangaji harus baca Koran bekas, sekarang jangan lupa kita punya kamus dan Koran terbesar di dunia, i-n-t-e-r-n-e-t. The best technology ever created yang memudahkan kita untuk tahu lebih banyak soal dunia.

Semakin hari biaya akses internet semakin murah, malah ada kecenderungan dari beberapa resto memberikan free internet untuk yang memesan makanan disana. Kantor pun semakin mobile, saya sering bertemu dengan teman-teman saya dari perusahaan besar maupun kecil yang sekarang kantornya pindah dari satu mall ke mall yang lain. Selama bisa telpon, sms dan check email everything will be okay. Bagus juga karena kita jadi gak bosan dan bisa jadi makin kreatif tentunya.

Dengan wawasan yang luas, lebih mudah untuk kita menjadi kreatif. So, what are you waiting for? Invest your time and money to read, my friend.

Diambil dari majalah Clear – kolom YORISSAYS every person is a creative person

 

Jamie Cullum

Filed under: creative — yoris72sebastian @ 6:29 pm
Tags: , , ,

Albert Einstein pernah berkata, “Hanya orang gila yang mengharapkan hasil yang lebih baik dengan melakukan hal yang sama”. Saya tidak tahu apakah Jamie Cullum pernah membaca quotes tadi, namun yang pasti musisi kelahiran Inggris ini dengan kreatif tampil beda sebagai musisi jazz bersuara Sinatra dengan tee shirt dan sepatu sneaker, lengkap dengan hentakan-hentakan ala rocker dan tak pernah ketinggalan a glass of red wine in his hand.

Jamie secara automatis tidak memiliki saingan karena tampil beda. Debut albumnya terjual sekitar 2,5 juta copies diseluruh dunia. Pencapaian yang lebih baik untuk album dengan napas jazz.

Jadi apapun pekerjaan anda, cobalah untuk melakukan hal yang berbeda secara kreatif namun relevan dan penuh perhitungan. Jamie tahu persis banyak juga fans yang hadir adalah pencinta musik popular. Dengan cerdik dia membawakan Sexy Back-nya Justin Timberlake serta Don’t Cha dari Pussycat Dolls dan tentunya tembang andalan milik Radiohead, High and Dry yang hampir selalu dibawakannya dimanapun ia tampil.

jamie-cullum.jpg

Ingat, berpikir kreatif adalah kebiasaan. Mengamati hal yang kreatif adalah salah satu cara untuk mulai menjadi kreatif. Lama-lama dalam melakukan pekerjaan kita, kitapun akan terbawa untuk melakukannya secara kreatif. Lakukan perubahan kecil dulu, dengan resiko kecil. Lalu setelah berhasil, perlahan tapi pasti lakukan perubahan yang lebih besar lagi.

Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Java Jazz Festival 2007 juga semakin kreatif saja. Bukan hanya karena bisa mengadakan event tepat pada tanggal 2,3,4 Maret – sesuai dengan nama brand sponsor utama namun mereka secara kreatif berhasil mendapatkan ‘jalan keluar’ untuk menghadirkan outlet food and beverage ternama bisa ikutan jualan dalam perhelatan musik jazz terbesar di Indonesia ini.

Dengan sedikti twist (dan perhitungan rupiah tentunya) mereka menambah 1 panggung kecil di area depan Jakarta Convention Centre, yang biasanya menjadi area parkir VIP. Disana kita bisa menjumpai Haagen-Dazs, J-co dan lain sebagainya sebagai alternatif makanan untuk para pengunjung. Seperti biasa, terobosan ini nantinya akan diikuti acara-acara lainnya.

Kenapa kira-kira panitia bisa makin kreatif? Karena acara ini dilakukan setiap tahun. Jadi dari evaluasi yang ada, diperbaiki dan dilakukan benchmarking dengan acara-acara serupa di luar negri maupun di dalam negri.

Banyak festival musik tahunan yang memang sudah legend, misalnya Glastonbury di Inggris yang sudah 29 kali penyelenggaraan sejak pertama kali diadakan di tahun 1970, ada juga Rock in Rio di Brazil, Big Day Out di Australia, Zouk Out di Singapura dan tentunya North Sea Jazz Festival di Belanda yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1976.

Memang menarik untuk melihat event-event tersebut semakin tahun semakin baik dan semakin kreatif lantaran pihak penyelenggara semakin berpengalaman.

Juga senang bila nantinya para sponsor di Indonesia bisa seperti di luar negri, sponsor suatu acara dengan kurun waktu yang cukup panjang. Seperti cerita teman saya dari Heineken yang khusus mendatang ‘Big Ears’ Trophy UEFA Championship ke Jakarta bulan lalu juga. Mereka mensponsori event tahunan tersebut untuk kontrak 5 tahun. Sehingga penyelenggara bisa lebih konsentrasi menggarap kreatif program.

Jadi untuk yang baru sukses membuat acara atau baru mau merancang sebuah event, coba dipikirkan untuk menjadikannya acara tahunan. PL Fair saja tidak terasa sudah hampir 2 dekade usianya. Saya sendiri yang terjun di event pertama tahun 1989 dan 1990 tidak pernah menyangka akan sepanjang ini. Namun kita bisa lihat sendiri, makin tahun penyelenggaraannya makin bagus dan makin kreatif dan sponsor pun semakin banyak.

Dan, 17 tahun membuat PL Fair menjadi brand yang cukup mahal value-nya. Apalagi banyak media yang sudah menyebut PL Fair sebagai pensi nomer satu di Indonesia. So plan your annual event, don’t keep on changing the name. Create your brand, my friend.

Diambil dari majalah Clear – kolom YORISSAYS every person is a creative person

 

MURI (Musium Rekor Indonesia)

Filed under: creative — yoris72sebastian @ 6:28 pm
Tags: , , , , ,

Siapa bilang kreatifitas hanya milik orang marketing. Pada dasarnya semua pekerjaan memerlukan kreatifitas untuk bisa sukses. Tapi banyak teman saya yang lantas bilang “loe sih enak, emang dasarnya kreatif, nah gue kan gak kreatif ris” sebenarnya mereka nggak tau kalau saya sendiri juga dulunya tidak kreatif. Itu wajar, menurut saya kreatifitas bukanlah semata faktor keturunan tapi juga faktor kebiasaan.

Apakah kita mau membuat creative thinking menjadi habit? Karena berpikir kreatif itu bisa dipelajari, dijalankan dan semakin sering tentunya semakin gampang karena sudah terbiasa. Jadi semuanya kembali pada kita sendiri.

Saya mencoba untuk mempunyai kebiasaan kreatif di segala hal. Mulai dari nomer telpon, pake jam tangan kadang di kiri dan kadang di kanan, sampai yang paling gampang memilih jalan untuk pergi ke kantor. Kita seringkali terjebak dengan kebiasaan dan rutinitas.

Ya, supaya kreatif cobalah dengan merubah sesuatu yang rutin. Misalnya jalan ke kantor tadi. Walau yang sekarang sudah yang terdekat dan tercepat tapi bila kita memulai dengan lewat jalan yang baru, it’s a start. Bayangkan dengan jalan yang baru tersebut anda bisa melihat banyak hal yang baru yang mungkin memberi inspirasi yang berbeda.

Apalagi kalau kita masih muda, apalagi yang bisa kita tawarkan kalau bukan kreatifitas. Saya bisa menjadi General Manager Hard Rock Café Jakarta di usia 26 (GM termuda kedua di HRC seluruh dunia) terutama karena saya kreatif.

Banyak hal baru yang saya tawarkan selama saya menjadi middle manager di Hard Rock Café, salah satunya program musik mingguan I Don’t Like Monday. Sebenarnya simple membuat konser untuk artis Indonesia yang sudah punya banyak album hanya saya lakukan setiap hari Senin. Kenapa senin? Karena senin waktu itu hari yang paling sepi di HRC maupun dimana-mana. Artis-artis juga banyak yang nganggur. Peralatan sound system juga banyak nganggur. Jadi biaya produksi bisa lebih murah. Dan yang paling penting, belum ada yang bikin event senin, jadi saya tidak punya saingan.

Ada yang bilang kreatif itu adalah melihat sesuatu yang sebenarnya simple tapi tidak kepikiran oleh orang lain. Jadi tidak susah banget kok. Coba deh lebih peka dengan keadaan sekeliling anda. Amati secara seksama, banyak inspirasi yang bisa diambil.

Bicara soal muda, baru-baru ini juga ada contoh yang bagus dari stasiun tv yang terbilang berusia cukup muda, Trans TV. Mereka sadar dengan usia muda mereka, mereka selalu hadir dengan program-program kreatif yang berbeda dari stasiun tv lainnya. Dari situ – saya baca di salah satu iklan – mereka sudah bisa klaim bahwa akhirnya mereka berhasil menjadi televisi dengan rating tertinggi di kelas AB. Dan saya saya sangat kagum, baru-baru ini mereka menjadi headline di harian kompas lantaran mendapat MURI untuk rekor pendaftaran karyawan baru terbesar yang pernah ada di Indonesia.

trans-tv-muri-kompas.jpg

Buat saya, ini merupakan contoh bagaimana mendapatkan MURI yang tepat dan relevan. Banyak perusahaan yang akhir-akhir ini saya lihat mendapatkan MURI hanya untuk sensational. Ini boleh-boleh saja kalau perusahaan tersebut baru sehingga perlu sensasi agar orang jadi kenal namun akan lebih baik kalau MURI award yang mereka dapat juga relevan.

Seperti Trans TV, MURI yang mereka dapat dari segi human resources selain sensasional juga relevan karena menunjukkan bahwa saat ini animo orang untuk masuk perusahaan tersebut sangat besar. As we all know that good company attract a lot of good people.

Diambil dari majalah Clear – kolom YORISSAYS every person is a creative person

 

Hello world!

Filed under: Uncategorized — yoris72sebastian @ 6:22 pm

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!